Category «POLITIK»

Presiden Menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional Kepada 4 Pahlawan

4 tokoh telah resmi ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh presiden RI, Jokowi, yaitu Prof. Drs. Lafran Pane, Sultan Mahmud Riayat Syah, Laksamana Malahayati, dan Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Madjid. Tentu saja walaupun jasa keempat pahlawan tersebut bagi kemerdekaan Indonesia luar biasa besar tetapi sebagian masyarakat ada yang bertanya-tanya mengapa bukan tokoh lain yang mendapatkan penghargaan tertinggi tersebut, seperti mantan presiden Gus Dur misalnya.

 

Prosedur penetapan gelar pahlawan nasional

Untuk penetapan gelar Pahlawan Nasional 2017 tersebut telah melalui prosedur yang rumit dan berlapis. Sebelumnya ada 9 nama pahlawan yang direkomendasikan oleh TP2GP atau Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat dan keputusan tersebut diteruskan kepada pemerintah.

 

Jimly Asshiddiqie sebagai Wakil Ketua Dewan Gelar mengatakan bahwa rekomendasi tersebut diperoleh dengan seleksi yang sangat ketat. Salah satu kriterianya adalah, demi persatuan nasional, setiap daerah akan ada tokoh yang secara resmi mempunyai gelar pahlawan nasional. Selain itu kriteria lainnya berkaitan dengan pertimbangan politik nasional.

 

Bila dalam suatu kasus penganugerahan gelar pahlawan akan berpotensi menimbulkan polemic, Dewan Gelar umumnya akan memilih untuk membatalkannya. Intinya Dewan Gelar tersebut lebih berkonsentrasi pada teknis sejarah, sekaligus tanpa terlalu royal memberikan gelar semacam itu. Indonesia sudah termasuk dalam Negara yang mempunyai gelar pahlawan paling banyak, dengan tambahan 4 tokoh yang baru saja diresmikan tesebut total tanah air kita telah memiliki 173 pahlawan nasional.

 

Prioritas gelar itu sendiri diberikan kepada tokoh yang telah wafat ratusan tahun silam sehingga untuk nama mantan presiden Gus Dur atau bahkan Soeharto memang dalam proses penentuannya tak dibicarakan. Setiap tahun kedua nama tersebut memang muncul, tetapi didahulukan untuk pemberian gelar ini pada tokoh yang telah gugur sekitar 2 abad yang lalu, seperti Laksamana Malahayati. Perlu diketahui bahwa nama pahlawan wanita tersebut telah digunakan sebagai nama kapal perang TNI AL serta nama jalan.

 

Uji Rekam Jejak

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan bahwa Pahlawan Nasional merupakan gelar yang istimewa sehingga penyandang gelar tersebut bukanlah orang sembarangan. Ada beberapa kriteria dalam menetapkan gelar tersebut. Dalam keterangan tertulis, Khofifah menerangkan bahwa penyandang gelar Pahlawan Nasional itu tak hanya mereka yang turut mengangkat senjata di medan perang tetapi juga mereka yang berkecimpung pada bidang lain tetapi manfaatnya dapat dirasakan secara nasional.

 

Ini sebagaimana latar belakang pahlawan nasional dari NTB, TKGH M. Zainuddin Abdul Madjid yang seorang nasionalis sekaligus pejuang kemerdekaan juga ulama, dai, hingga tokoh pendidikan emansipatoris. Beliau dilahirkan di Nusa Tenggara Barat pada 19 April 1908 dan tutup usia pada 21 Oktober 1997. Zainuddin adalah pendiri organisasi NW atau Nahdatul Wathan yang artinya adalah Kebangkitan Tanah Air. Inilah organisasi Islam terbesar di Lombok yang juga berkonsentrasi pada pendidikan serta agama.

 

Yang cukup menarik di sini adalah dipilihnya Laksamana Malahayati, tokoh dewa poker pejuang asal Naggroe Aceh Darussalam sebagai pahlawan nasional. Malahayati dilahirkan di Aceh  pada tahun  1550 dan gugur pada tahun 1615. Dialah laksamana wanita pertama di dunia yang membentuk pasukan Inong Balee yaitu para janda prajurit Aceh. Di tahun 1559 Malahayati memimpin armada laut untuk bertempur melawan Belanda hingga berhasil membuat Cornelis De Houtman tewas.  Bersama Sultan Iskandar Muda, di tahun 1606 Malahayati juga berhasil membuat armada laut Portugis kocar-kacir. Jadi selain Cut Nyak Dien, pahlawan wanita Aceh yang juga gagah berani mengangkat senjata melawan penjajah adalah Laksamana Malahayati.

Semoga bisa menambah wawasan Anda.