Kasus Novel: Tito Bentuk Tim Gabungan Polri dan KPK Serta Rilis Sketsa ‘Pelaku’

Tito Karnavian, Kapolri Jendral, menegaskan bahwa pihaknya tidak membuat Tim Pencari Fakta (TPF) guna menyelesaikan kasus penyerangan dengan air keras terhadap Novel Baswedan. Ia menegaskan bahwa pihaknya membentuk tim gabungan dari Polri dan KPK. Polri sendiri saat ini sedang memburu seorang lelaki yang mana dicurigai sebagai pelaku dari penyerangan tersebut.

Tim Gabungan Polri-KPK dibentuk

Usai bertemu dengan Presiden pada hari Senin (31/7) kemarin, Tito memberikan keterangan pers, “TPF itu tidak pro-justicia, yang mana artinya hasilnya tidak bisa langsung dijadikan berang bukti dari penyidikan dan bisa dibawa ke pengadilan. Tim gabungan KPK-Polri ini adalah tim investigasi dan lebih dalam lagi masuk ke data mentah, bukanlah superficial (permukaan).”

Tito juga mengatakan dalam pertemuan yang mana berlangsung selama 2 jam itu bahwa Presiden Jokowi meminta dirinya untuk “menuntaskan kasus Novel sesegera mungkin.” TPF Independen yang juga melibatkan unsur masyarakat dianggap oleh sejumlah pegiat anti-korupsi sebagai solusi yang salah untuk menyelesaikan kasus Novel ini. sampai saat ini, kasus ini masih saja jalan di tempat dan belum menemui titik terang bahkan hampir 4 bulan setelah kejadian berlangsung.

Menanggapi hal ini, Tito menegaskan, “Saya pikir kita semua cukup percayakan kepada institusi KPK juga. Karena rekan-rekan KPK cukup kredibel. Selama ini tim Polri bekerja. Oke kalau kami dianggap kurang kredibel. Tapi saya kira tim KPK dipercaya oleh public jadi kenapa tidak digabungkan saja tim Polri dan KPK?”

Ada Unsur Keraguan pada Tim Gabungan dari Sejumlah Pihak

Akan tetapi, pegiat anti korupsi Indonesia dari Indonesia Corruption Watch (ICW), Tama S. Langkun, meragukan kemampuan dan kredibilitas dari tim gabungan yang Cuma terdiri dari KPK dan juga Polri. Ia meragukan tim tersebut dapat mengungkap kasus Novel. “Seperti sekarang saja, ya, kan saling tuduh antara teman-teman dari KPK dan Polri. Kalau ada unsur dari luar KPK dan Polri, mereka bisa jadi penyeimbang,” tegasnya pada hari Senin (31/7) lalu.

Hal yang menimbulkan keraguan pada tim gabungan yang dibentuk oleh Tito ini dimulai dari adanya saling tuduh antar kedua institusi ini. dan ini bukan tanpa sebab, pasalnya Novel menyebutkan bahwa ada oknum jenderal polisi yang berperan juga dalam kasus penyiraman air keras terhadap dirinya. Sementara itu, polisi memberikan isyarat bahwa KPK tak proaktif dalam mengungkapkan kasus yang menimpa salah satu penyidiknya yang paling dikenal oleh publik itu.

Tito memberikan pendapatnya soal ini juga, “Dugaan adanya jendral polisi yang juga terlibat dalam kasus ini perlu kita ketahui sendiri dari keterangan dari Novel. Kita sudah siapkan tim untuk berangkat ke Singapura dan agar adil maka kami minta KPK mendampingi. Agus Rahardjo (Ketua KPK) sudah setuju akan mendampingi pada pertemuan Juni 16 lalu. tetapi sampai saat ini informasi dari KPK untuk mendampingi dewa poker ke Singapura belum juga diterima.”

KPK dianggap cuek karena hal ini. dan belum adanya informasi kapan kunjungan ke Singapura dari KPK itulah yang mana diklaim Kapolri menjadi salah satu kendala dalam mengungkap kasus Novel. Namun ia menyatakan bahwa dalam beberapa hari ke depan pihaknya akan membicarakan hal ini dengan komisioner KPK guna membahas waktu dan juga kunjungan ke Singapura untuk mendegar langsung keterangan dari Novel.

Senada dengan hal itu, Tama S. Langkun pun mengutarakan bahwa kritikan dalam penanganan kasus Novel ini juga musti diarahkan pada KPK. “KPK belum maksimal. Novel (telah) beberapa kali diserang. Sehingga ini perlu dipertanyakan bagaimana perlindungan kepada penyidik. Kalau di awalnya bisa diselesaikan dengan baik, pelaku ditangkap, maka serangan berkali-kali terhadap Novel tidak akan terjadi lagi,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *